<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="30844">
 <titleInfo>
  <title>Al- Qalam :</title>
  <subTitle>Jurnal Ilmiah Bidang Keagamaan dan Kemasyarakatan/ Saeful Anwar Dkk</subTitle>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Anwar, Saeful</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Arkoun, Mohammed</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Sahabudin</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Iman, Fauzul</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Mughni, Subhan</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Koswara, H.S</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Syafuri, B</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Baihaqi, Wazin</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banten</placeTerm>
   <publisher>STAIN BANTEN</publisher>
   <dateIssued>2002</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>167 hlm; 25 cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>CAT :&#13;
1. Ta'wil Al-Qur'an dan Ushul Fiqh dalam Perspektif Ulama Tafsir (Saeful Anwar)&#13;
2. Muhammad Rasyid Ridha : Sejarah dan Pemikirannya (H. Fauzul Iman)&#13;
3. Nur Muhammad dalam Tradisi Sufisme (Sahabudin)&#13;
4. Kondisi Kewanitaan dalam Konteks Islam (Mohammed Arkoun)&#13;
5. Pendidikan Pesantren : Tradisi dan Modernisasi (H.S. Koswara)&#13;
6. Lembaga &quot;Al-Khiar&quot; dalam Bisnis Islam (Kajian Perbandingan) (B. Syafuri)&#13;
7. TAnggungjawab Ilmuwan Muslim dalam Masyarakat (Wazin Baihaqi)&#13;
&#13;
1. Al-Qur’an diturunkan untuk difahami, diamalkan dan didakwahkan. Sebagian ayatnya cukup terang, tetapi sebagian lagi masih memerlukan penjelasan, baik  dengan tafsir,yakni penjelasan makna lapaz dari nash al-Quran, hadist atau ra’yu sesuai arti lahir (yang rajih), maupun dengan ta'wil, yakni memalingkan lafaz kepada makna katanya (marjuh) karena alasan tertentu. Dari sudut bentuknya, ta'wil identik dengan tafsir kecuali dalam beberapa hal, sedang pembahasan paling mendasar antara keduanya adalah bahwa tapsir pada dasarnya kembali kepada riwayat dan makna pertama, sedang ta'wil kembali kepada dirayah dan makna kedua.&#13;
Sikap ulama terhadap ta'wil secara umum terlihat dari pandangan mereka tentang otoritas dan kaidah-kaidah tafsir secama umum, tafsir bi al-ra’yi kajian khusus tentang kaidah-kaidah kehahasaan dan kajian khusus tentang ta'wil ayat-ayat mutasyabihat. Para ulama yang mempunyai akidah yang sahih, ilmu yang dalam, akhlak yang mulia dan mengamalkan ilmunya, pada umumnya mengakui dan memberlakukan ta'wil pada tempat yang semestinya sesuai prinsip-prinsip dan ruh al-Quran dan al-Sunnah serta kaidah-kaidah kebahasaan, tidak menolak sama sekali dan tidak membahasnya tanpa batas. Tetapi ulama salaf pada umumnya lebih sedikit memakai ta'wil ketimbang ulama khalaf Ada dua bahaya besar yang dapat mengaburkan ajaran al-Qur’an dan al-Sunnah, yaitu riwayat maudlui dan doif serta sehagian israiliyat yang berkaitan dengan tafsir bi al-ma'tsur dan ta’wil fasid yang berkaitan dengan tafsir bi al-ra’yi. Baik pada zaman dahulu maupun pada zaman kontemporer, ta'wil fasid banyak bermunculan karena berbagai faktor.&#13;
&#13;
2. Abad ke-19 yang merupakan abad kebangkitan industri di dunia Barat telah memunculkan respon baru terutama bagi dunia pemikiran Islam. Respon itu muncul sebagai reaksi intelektual atas kematian panjang umat Islam dari kejayaan masa silam yang telah tercapai. Kejayaan silam bagi umat Islam boleh dicatat telah merekam dinamika historis yang sangat spektakuler, bahkan pernah menjadi buaian nostalgia yang tidak menguntungkan umat. Munculnya abad kebangkitan industri seolah-olah menjadi pukulan berat bagi umat Islam untuk menggugah kesadaran umat dari kemunduran. Kondisi umat Islam saat ini memang sangat kontras dengan kemajuan yang dicapai Barat dalam abad kebangkitan Islam. Umat Islam di zaman ini tidak lagi jaya seperti dulu. Dahulu umat Islammenggunakan akal atau nalarnya yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis untuk menggugah kemajuan. Tapi kini terjerat di alam ketumpulan akal dengan mencintai tahayul, khurafat dan membenci kemajuan. Sementara yang paling kritis dialami umat Islam adalah belum menghilangnya situasi pembenaran terhadap adanya klaim ijtihad tertutup. Dalam situasi inilah, lahir para pembaharu yang menggugah pentingnya merumuskan kembali pemikiran keagamaan yang sejalan dengan perkembangan zaman. Dengan kata lain, ijtihad harus dibuka kembali sebagai satu-satunya metode yang dapat mengentaskan kebekuan umat berhadapan dengan dinamika dan komplekitas perubahan zaman. Rasyird Ridha adalah salah satu pembahau/pemikir Islam yang sangat tangguh dan gigih mendengungkan kembali peran ijtihad. Ia dalam tulisannya menyoroti pentingnya akal diperankan untuk membuktikan keunggulan syari'ah Islam di atas hukum Barat. Menurut Rasyid Ridha, umat Islam dengan akalnya tidak boleh taklid (terikat) membabi-buta pada pikiran orang lain, tetapi juga harus toleran (terbuka) menggali dan mnyerapi pemikiran orang lain tanpa melakukan liberalisasi. Dengan pengaruh umat Islam akan mampu mengejar kemajuan, seperti yang dialami dahulu.</note>
 <note type="statement of responsibility">Anwar, Saeful</note>
 <subject authority="">
  <topic>Sufisme</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>Tafsir</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>Ushul fiqih</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>bisnis islam</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>muhammad rasyid ridha'</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>hadist</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>Pendidikan Pesantren</topic>
 </subject>
 <classification>18.462/smb/2003</classification>
 <identifier type="isbn">14103222</identifier>
 <location>
  <physicalLocation>Perpustakaan UIN Mataram Online Public Access Catalog</physicalLocation>
  <shelfLocator>18.462/smb/2003</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">18.462/smb/2003</numerationAndChronology>
    <sublocation>Perpustakaan Pusat (18.462/smb/2003)</sublocation>
    <shelfLocator>18.462/smb/2003</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>30844</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2021-11-17 08:05:16</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2021-11-17 08:08:31</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>