No image available for this title

Text

Jurnal Lektur Keagamaan : Jurnal Penelitian Lektur dan Khazanah Keagamaan/ Alfan Firmanto Dkk



CAT :
1. Masjid Kuno di Pulau Haruku Propinsi Maluku : Kajian Sejarah, Bentuk dan Fungsi (Alfan FIrmanto)
2. Syiar Islam dalam upacara Adat Hanta Ua Pua di Tanah Bima Nusa Tenggara Barat (Alan Malingi)
3. Masuknya Islam di Maluku Tenggara dan Peran Masjid Al-Mukarromah sebagai basis penyebarannya (Ali Fahruddin)
4. Tafsir Islami atas perjuangan Sultan Khairun dalam Melawan Portugis di Kawasan Maluku Utara (Darmawijaya)
5. KH. Misbah Ibn Zainul Musthafa (1916-1994 M) Pemikir dan Penulis Teks-teks Keagamaan dari Pesantren (Islah Gusmian)
6. "Duduk Dekat di Bawah Guru" dan Transformasinya : Kajian atas Kitab Upanisad dalam Ajaran Hindu ( I Nyoman Yoga Segara)

1. Sejarah perkembangan agama Islam di pulau Haruku Ambon tidak bisa dilepaskan dari para tokoh ataupun ulama yang berasal dari pulau Jawa. Bukti pengaruh Islam dari Jawa dapat dilihat dari bentuk arsitektur masjid di pulau tersebut yang mengambil bentuk dari masjid-masjid Wali di Jawa. Terlihat dari bentuk Atapnya yang bertumpang dan denah masjid yang berbentuk bujur sangkar, dari segi ini pengaruh arsitektur masjid Jawa sangat kuat. Meskipun demikian secara adat dan budaya tidak terlihat pengaruh budaya Jawa pada struktur masyarakat di Haruku. Masjid di pulau Haruku, tidak sekedar berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi mempunyai fungsi lain yaitu sebagai simbol persekutuan antar negeri dan adat, juga sebagai simbol eksistensi sebuah masyarakat adat. Pengaruh hukum Adat lebih kuat daripada hukum syariat utamanya di negeri Rohomoni. Sehingga terkesan Masjid lebih dominan digunakan sebagai simbol adat daripada bangunan ibadah. Kata Kunci : Masjid Kuno, Haruku, Ambon, Islam, Indonesia.

2. Artikel ini ditulis untuk melestarikan dan mempromosikan salah satu upacara adat di tanah Bima NTB yang dikenal dengan Hanta Ua Pua yang merupakan warisan budaya islam. Upacara ini dilaksanakan bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammmad SAW. sehingga dalam bahasa Bima juga sering disebut dengan Hanta Ua Pua Ade Wura Molu atau MOLU ( Pengantaran Ua Pua di dalam bulan maulid). Dalam Perkembangan sejarah Bima, upacara Hanta Ua Pua dilaksanakan pertama kali pada masa pemerintahan Sultan Abdul Khair Sirajuddin, sultan Bima kedua (1640-1682 M). Sejak saat itu, Hanta Ua Pua ditetaptakan sebagai perayaan rutin kesultanan Bima yang dikenal dengan Rawi Na’e Ma Tolu Kali Samba’a, termasukl upacara besar yang dilaksanakan dalam tiga kali setahun. Perayaan tersebut yaitu Ndiha Aru Raja Na’e (Perayaan Idul Adha), Ndiha Aru Raja To’i (Perayaan Idul Fitri), dan Ndiha Ua Pua (Perayaan Hanta Ua Pua). Studi ini menguraikan sejarah Islam di Tanah Bima karena Hanta Ua Pua berkaitan dengan proses penyiaran agama Islam di Bima, makna dan tujuan Ua Pua, rangkaian upacara Ua Pua, perlengkapan ritual Ua Pua, serta kesenian pengiring upacara Hanta Ua Pua.


Ketersediaan

LEK- 51/14/1/2016LEK- 14/1/2016Perpustakaan Pusat (LEK- 51/14/1/2016)Tersedia namun tidak untuk dipinjamkan - No Loan

Informasi Detil

Judul Seri
-
No. Panggil
LEK- 14/1/2016
Penerbit Balai Litbang dan Diklat Kemenerian Agama RI : Jakarta.,
Deskripsi Fisik
256 hlm; 25 cm
Bahasa
Indonesia
ISBN/ISSN
1693-7139
Klasifikasi
LEK- 14/1/2016
Tipe Isi
-
Tipe Media
-
Tipe Pembawa
-
Edisi
Vol. 14 No. 1
Subyek
Info Detil Spesifik
-
Pernyataan Tanggungjawab

Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain




Informasi


DETAIL CANTUMAN


Kembali ke sebelumnyaXML DetailCite this