No image available for this title

Text

Ulumuna: Jurnal Studi Keislaman/ A. Khudori Soleh dkk



Cat:
1. Mencermati Epistemologi Tasawuf (A. Khudori Soleh)
2. Epistemologi Tasawuf dalam Pemikiran Fiqh Al-Sya'rani (Miftahul Huda)
3. Perempuan dalam Lintasan Sejarah Tasawuf (Sururin)
4. Gerakan Petani Banten: Studi Terhadap Konfigurasi Sufisme Awal Abad XIX (Hamidah)
5. Implementasi Nilai-nilai Sufisme Dalam Tarekat Naqsyabandiyah di Sulawesi Selatan (Hadarah Rajab)
6. Tarekat "Semi Mandiri" Prototipe Ritual Masyarakat Pedesaan Madura (Imam Amrusi Jailani)

1. Epistemologi irfani yang dikembangkan dan digunakan dalam tasawuf adalah salah satu sistem penalaran yang dikenal dalam tradisi keilmuan Islam, di samping bayani dan burhani. Berbeda dengan bayani yang mendasarkan diri pada teks suci dan burhani yang mengandalkan kekuatan dan aturan logis, irfani mendasarkan pengetahuannya pada kasyf, terlimpahnya pengetahuan secara langsung dari Tuhan ke dalam hati tanpa perantara, tanpa analisis dan olah logika. Cara pencapaiannya adalah dengan olah ruhani lewat tahapan-tahapan spiritual tertentu (maqâmât) dan pengalaman batin tertentu (hâl). Pengetahuan yang diterima dibagi dalam 2 kategori: pengetahuan yang tidak terkatakan dan pengetahuan yang terkatakan. Pengetahuan yang tidak terkatakan hanya dapat dipahami oleh yang bersangkutan sebagai pengalaman spiritual yang luar biasa, sedang pengetahuan yang terkatakan disampaikan lewat dua cara: qiyâs irfân dan syathah. Namun, berbeda dengan qiyâs bayân yang meletakkan teks suci sebagai pokok (ashl) dan pengalaman empirik sebagai cabang (far’), qiyas irfân justru menempatkan pengalaman spiritual sebagai pokok (ashl) dan teks suci sebagai cabang

2. Epistemologi merupakan hal yang fundamental karena dari situlah legitimasi dari konsep-konsep hukum syariah bersumber. Di situ pula akar perdebatan tentang kebenaran hasil ijtihad yang sering diklaim secara eksklusif
oleh kelompok-kelompok umat Islam sehingga berdampak buruk bagi hubungan dan solidaritas sosial di antara mereka. Fakta seperti itulah yang disaksikan alSya‘rânî sepanjang hayatnya. Sebagai faqih terkemuka, dia merasa terpanggil
untuk memberikan alternatif solusi teoretik atas masalah ini demi kemaslahatan umat. Setelah melakukan kajian yang panjang, akhirnya dia berkesimpulan bahwa sesungguhnya semua klaim eksklusif tentang kebenaran dan superioritas
system episteme tertentu adalah tidak memiliki argumen yang benar-benar meyakinkan, baik dalam tradisi keilmuan umat Islam maupun dalam perspektif sosiologis.


Ketersediaan

ULU/32/14/2/2010ULU/14/2/2010Perpustakaan Pusat (ULU/32/14/2/2010)Tersedia namun tidak untuk dipinjamkan - No Loan

Informasi Detil

Judul Seri
-
No. Panggil
ULU/14/2/2010
Penerbit IAIN Mataram Press : Mataram.,
Deskripsi Fisik
428 hlm; 26 cm
Bahasa
Indonesia
ISBN/ISSN
1411-3457
Klasifikasi
ULU/14/2/2010
Tipe Isi
-
Tipe Media
-
Tipe Pembawa
-
Edisi
Vol. XIV No. 2
Subyek
-
Info Detil Spesifik
-
Pernyataan Tanggungjawab

Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain




Informasi


DETAIL CANTUMAN


Kembali ke sebelumnyaXML DetailCite this