<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="29034">
 <titleInfo>
  <title></title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>RAHMAN, M. Fachrir</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text"></placeTerm>
   <publisher>LP2M UIN Mataram</publisher>
   <dateIssued>2017</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>73 hlm, 26 cm.</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Pelaksanaan upacara adat maupun ritual keagamaan yang didasari atas adanya kekuatan gaib masih tetap dilakukan oleh sebagian kelompok  masyarakat di Indonesia, baik berupa ritual kematian, ritual syukuran atau slametan, ritual tolak bala, ritual ruwatan, dan lain sebagainya. Ritual-ritual ini telah menjadi tradisi dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari sebagian besar masyarakat karena telah diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang mereka kepada generasi berikutnya. Terkait denagan hal itu maka dapat drumuskan: Bagaimana praktek ritual berontok di desa Sukarara Dan  Apa faktor muncul dan berkembangnya tradisi praktek ritual berontok di desa Sukarara dalam tinjauan antopologi hukum Islam. Untuk menjawab pertanyaan permaslahan tersebut penulis menggunakan data penelitian kualitatif dengan pendekatan antropologi. Penelitian ini menemukan bahwa praktik berontok dilakukan masyarakat desa Sukarara pada malam-malam ganjil setelah acara zikiran dlakukan, berontok dilakukan dengan memukul kayu menggunakan lesung secara beramai-ramai dengan alunan nada yang teratur. Ritual berontok merupakan sebuah tradisi yang  dijaga secara turun menurun dari generasi ke generasi  dengan menerapkan sanksi social bagi masyarakat yang mengindahkan ritual. Praktek ritual berontok ini menunjukkan bentuk akulturasi dialektis antara budaya lokal dengan islam  ang datang kemudian. Dialektika tersebut kemudian diberikan napas-napas islam sehingga terhindar dari kemusyrikan sebagaimana dalam sejarah islam disebarkan oleh sunan kalijaga dikenal dengan sekatenan</note>
 <note type="statement of responsibility">M. Fachrir Rahman</note>
 <subject authority="">
  <topic>Budaya</topic>
 </subject>
 <classification>L.P-2017/256/Fac</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>Perpustakaan UIN Mataram Online Public Access Catalog</physicalLocation>
  <shelfLocator>L.P-2017/256/Fac</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">L.P-2017/256/Fac</numerationAndChronology>
    <sublocation>Perpustakaan Pusat (L.P-2017/256/Fac)</sublocation>
    <shelfLocator>L.P-2017/256/Fac</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>29034</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2019-02-21 10:42:19</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2019-02-21 10:42:19</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>