No image available for this title

Journal

WALI SONGO (JURNAL PENELITIAN SOSIAL KEAGAMAAN) David Samiyono



Cat :
1. Resistensi agama dan budaya masyarakat (Bali menjunjung tinggi nilai-nilai keseimbangan dan harmonisasi antar manusia dengan Tuhan (perhyangan), dengan sesama (pawongan) dan dengan lingkungan )(palemahan). Sikap orang Bali tidak lagi ramah dan harmoni setelah peledakan bom Bali pada tahun 2002 dan 2005. Ajeg Bali merupakan kearifan lokal agama dan budaya masyarkat Bali dalam rangka menaggulangi pengaruh luar yang mengakibatkan perubahan diberbagai bidag sehingga identitas kebalian mengalami degredasi)

2. Revitalisasi islam kultural (Dengan menggunakan metode kualitatif akan menajdi jelas demarkasi antara islam tradisional dan isam modernis secara kultural. Meski polarisasi kedua kelompok keagamaan itu kerap bernuansa politis, sehingga kerap menghilangkan elan vital islam Indonesia sebagai gerakan sosial budaya. Tetapi ada trend kontradiktif dalam dinamika pemikiran dan gerakan agama islam yang dilakukan oleh kelompok minoritas islam. Dominasi pemikiran plitik Sunni ikut mempengaruhi pola gerakan Islam kepada negara dan pada saat yang sama mengabaikan masyarakat dengan problem kebudayaan mereka)

3. Makna simbolik upacara siraman pengantin adat jawa ( Siraman (mandi) merupakan adat Jawa yang dilakukan sehari sebelum pengantin melaksanakn ijab kabul. Dalam upacara siraman tata pelaksanaan dan peralatan (ubarambe) yang digunakan sudah maton/pakem sebagai sebuah simbol yang memiliki arti dan makna. Metode hermenuetik diinterpretasikan secara komprehensif agar makin jelas arti dan makna sehingga akan lebih mudah memberikan pemahaman tentang saling hubungan (interelasi) anatar filsafat, budaya dan islam)

4. Kontribusi upacara adat mendirikan dan pindah rumah terhadap nilai pendidikan islam (Ragam upacara adat melayu Pontianak yang dialksanakan selama siklus kehidupan mereka, mulai dari lahir sampai meninggal dunia sangat banyak. Seluruh upacara tersebut menggunakan properti tertentu. Baik pada properti yang digunakan maupun rangkaian prosesi yang dilakukan masing-masing menjadi simbol-simbol tertentu yang sesungguhnya memiliki pesan moral, khususnya nilai pendidikan islam. Salah satunya adalah upacara adat mendirikan dan pindah rumah)

5. Ritual rambut gembel dalam arus ekspansi pasar pariwisata (Pemerintah telah mengusahakan ritual rambut gembel sebagai komoditas pariwisatadi dataran tinggi Dieng. Hasil analisis menunjukkan bahwa ada dua varian respon sosial terhadap perubahan akibat ekspansi pasar pariwisata, yaitu masyarakat yang menerima dan masyarakat yang menolak. Masyarakat penerima adalah orang yang memiliki kepentingan dibidang ekonomi dan pariwisata, sedangkan masyarakat yang menolak adalah orang-orang yang memegang keyakinan dan tradisi lokal. Secara teoritis studi ini memberi penjelasan bahwa religiusitas masyarakat dipengaruhi oleh modal produksi ekonomi yang ada)

6. kontribusi ungkapan tradisional dalam membangun kerukunan beragama (Ganjuran dalam memelihara kerukunan dalam bentuk ungkapan-ungkapan tradisonal dan tradisi kenduri. Masyarakat Ganjuran memiliki pandangan sosial guyub rukun yang di ungkapkan melalui berbagai ungkapan tradisonal seperti rukun agawe santosa crah agawe bubrah)

7. Kearifan lokal sebagai resolusi konflik keagamaan (Dalam kasus konflik Maluku, agam bukanlah sumber utama, namun rivalitas antar elemen masyarkat memperebutkan sumber daya ekonomi politik dan birokrasi yang menjadi permasalahannya. Agama hanya menjadi faktor pendukung yang menyediakan adanya legitimasi moral dan identitas politik untuk melakukan kekerasan terhadap orang lain. Selain halnya kearifan lokal, representasi dalam birokrasi juga memgang peran utama dalam mereduksi kesenjangan sosial antara elemen masyarakat di Maluku).

8. Dinamika lmasyarakat lokal di perbatasan ( Nanga Badau yang terletak di daerah perbatasan Kalimantan Barat( Indonesia ) dan Serawak ( Malaysia ) merupakan salah satu wilayah perbatasan yang tertinggal.Tampak bahwa sikap ramah dan menghormati pendatang merupakan salah satu bentuk nyata bahwa mereka sangat terbuka dengan adanya arus global dan lokal. Mereka juga ingin memiliki kesadaran diri akan posisi mereka sebagai bagian dari penduduk dunia. Adanya ruang interaksi bagi dunia luar seperti mudahnya akses keluar masuk negara lain mengakibatkan pola interaksi informasi dan komunikasi etnis Iban menjadi berkembang)
9. Makna kultural dan sosial-ekonomi tradisi syawalan (Hasil pengamatan, wawancara serta telaah terhadap data sekunder, dapat dijelaskan bahwa tradisi swalayan di Morodemak merupakan salah satu tradisi masyarakat yang mengekspresikan kebudayaan masyarakat Jawa pesisiran yang religius. Bagi masyarakat Morodemak, tradisi swalayan merupakan wujud rasa syukur pada Tuhan yang Maha Esa atas karunia melimpahnya hasil laut sekaligus ungkapan do'a keselamatan dari segala marabahaya yang b isa timbul dari laut. Tradisi swalayan juga memiliki makna kepedulian kepada alam. khusunya laut serta makna membangun kerukunan dan keguyuban diantara masyarakat nelayan)

10. janengan sebbagai seni tradisional islam-jawa


Ketersediaan

WAL-05/21/2/2013WAL-21/2/2013Perpustakaan Pusat (WAL-05/21/2/2013)Tersedia namun tidak untuk dipinjamkan - Missing

Informasi Detil

Judul Seri
-
No. Panggil
WAL-21/2/2013
Penerbit LP2M IAIN WALISONG O SEMARANG : Semarang.,
Deskripsi Fisik
iv, 251-520 hlm.; 23 cm
Bahasa
Indonesia
ISBN/ISSN
0852-7172
Klasifikasi
NONE
Tipe Isi
-

Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain




Informasi


DETAIL CANTUMAN


Kembali ke sebelumnyaXML DetailCite this